Senin, 30 Oktober 2017

USNISA VIJAYA DHARANI




NAMO USNISA VIJAYA DHARANI
NAMO SARVA TATHAGATA

NAMO MAHAKARUNIKAYA SARVA TATHAGATA TRAILOKA PUJITO
TADYATHA:"OM AMILIDA DEKA FADI SVAHA"!


Sutra ini telah saya, Ananda, mendengar sendiri daripada Bhagavan Buddha.
Demikianlah telah kudengar, pada suatu ketika, Bhagavan Buddha berdiam di Shravasti di Jetavana, dalam Taman Anathapindaka (orang yang berkebajikan terhadap anak yatim piatu dan mereka yang tinggal berseorangan), bersama pengikut-pengikut tetap-Nya yang terdiri daripada seribu dua ratus lima puluh Maha Bhiksu dan dua belas ribu Sangha Maha Bodhisattva kesemuanya.

Ketika itu juga, dewa-dewa Surga Trayastrimsa telah mengadakan perhimpunan di Dewan Dharma Sempurna. Di antara mereka yang hadir ialah Dewaputra Tusita. Bersama dewaputra-dewaputra lain, Dewaputra Tusita turut bersuka ria di dalam dewan serta di luar, di halaman, taman bunga dan menara, asyik menikmati kebahagiaan hidup surga. Mereka sangat gembira, menyanyi-nyanyi, menari-nari menghibur diri bersama dewi-dewi surga.

Sejurus malam menjelma, Dewaputra Tusita tiba-tiba mendengar suara di angkasa yang berkata, "Dewaputra Tusita, engkau hanya akan hidup selama tujuh hari lagi. Selepas mangkat, engkau akan dilahir semula di Jambu-dvipa (Bumi), sebagai binatang selama tujuh hayat berturut-turut. Kemudian, akan jatuhlah kamu ke alam neraka untuk
menderita lagi. Hanya setelah menerima karmamu, barulah akan engkau lahir semula dalam dunia manusia, tetapi ke dalam keluarga terhina dan miskin. Semasa dalam kandungan ibu, engkau tidak akan mempunyai mata, dan buta apabila lahir."

Setelah mendengar kata-kata tersebut, Dewaputra Tusita begitu takut sehingga tegak bulu romanya. Dengan hati yang diselubungi risau dan derita, Dewaputra Tusita lantas berkejar ke istana Dewaraja Sakra (Raja Dewata di Surga Trayastrimsa), Sambil menangis sekuat hati karena tidak tahu apa lagi yang harus dilakukannya, Dewaputra Tusita pun bersujud di kaki Dewaraja Sakra lalu memberitahu Dewaraja Sakra tentang apa yang telah berlaku.

"Sewaktu hamba asyik menghayati lagu dan tarian bersama dewi-dewi surga, tiba-tiba hamba mendengar suara di angkasa yang berkata bahwa hidup hamba tinggal tujuh hari saja, dan kemudian hamba akan lahir semula sebagai binatang dalam dunia Jambu-dvipa selama tujuh hayat berturut-turut. Setelah itu, hamba akan terjerumus ke alam neraka untuk menderita lagi. Setelah penghukuman karma hamba selesai, barulah hamba akan lahir semula dalam dunia manusia. Walau demikian, hamba akan lahir cacat tanpa mata dalam keluarga miskin dan terhina. Raja Surga, bagaimanakah dapat hamba melepaskan diri daripada penderitaan ini? "

Dewaraja Sakra merasa sungguh heran dan terkejut atas penjelasan dan ratapan Dewaputra Tusita itu. Hati kecilnya berfikir, "Dalam tujuh haluan buruk dan rupa buruk manakah akan Dewaputra Tusita ini dilahirkan semula berturut-turut?"

Dewaraja Sakra dengan serta-merta menenangkan mindanya untuk memasuki keadaan Samadhi lalu membuat pemerhatian teliti. Dengan segera, Dewaraja Sakra mendapati bahawa Dewaputra Tusita akan dilahir semula tujuh kali berturut-turut dalam haluan buruk berupa babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nasar, kesemuanya yang hidup memakan makanan kotor dan busuk. Setelah memperhatikan bakal keadaan tujuh rupa lahir semula Dewaputra Tusita, hati Dewaraja Sakra hancur dan penuh duka, tetapi Dewaraja Sakra tiada ikhtiar untuk menolong Dewaputra Tusita. Raja Sakra berpendapat bahwa hanya Tathagata, Arhat, Samyak-sambuddha sajalah yang dapat menyelamatkan Dewaputra Tusita dari penderitaan haluan buruk yang bakal menimpanya.

Maka, awal malam hari itu, Dewaraja Sakra telah menyediakan
berbagai jenis bunga malai serta wangi-wangian. Selepas menjubahi diri dengan pakaian dewa yang halus, Dewaraja Sakra membawa barang pemujaannya ke Taman Anathapindaka, tempat penginapan Bhagawan Buddha. Sesampainya di sana, Dewaraja Sakra mula-mula bersujud di kaki Bhagavan Buddha sebagai tanda memberi hormat, kemudian memuja Bhagavan dengan berjalan perlahan-lahan mengelilingi-Nya tujuh kali mengikut arah jam, sebelum membentangkan puja (barang-barang penyembahan) Dewaraja Sakra yang mewah itu. Sambil berlutut di hadapan Bhagavan, Dewaraja Sakra telah menerangkan dan menguraikan nasib Dewaputra Tusita yang bakal terjerumus ke haluan buruk, dengan tujuh hayat lahir-semula berturut-turut dalam rupa binatang, dan hal yang akan menimpanya selepas kesemua itu.

Dengan serta-merta, dari usnisa (puncak silara) Tathagata, berbagai sinaran cahaya memancar dan menerangi seluruh penjuru dunia dalam kesemua sepuluh arah, lalu memantul mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali sebelum kembali ke mulut-Nya. Selepas itu, Bhagavan Buddha tersenyum dan bersabda kepada Dewaraja Sakra, "Raja Surga, dengarlah dengan penuh perhatian. Pada waktu asamkhyeya eon yang tidak terkira dahulu, terdapat seorang Buddha yang bergelar Vipasyin Tathagata, Arhato, Samyak-sambuddha, Yang Memiliki Pikiran dan Perbuatan Sempurna, Yang telah mencapai Maha Pari Nirvana, Maha Mengetahui Dunia, Maha Pengatur, Pejuang yang Tiada Taranya, Pemusnah Nafsu, Guru Para Dewa dan Manusia, Yang Sadar dan Yang Dhormati Dunia, lengkap dengan sepuluh gelaran bagi seorang Buddha. Selepas afiniti untuk menyelamatkan makhluk-makhluk di dunia ini berakhir, Vipasyin Buddha telah memasuki Maha Parinirvana. Pada Zaman Dharma Imej Buddha itu, terdapat sebuah negara yang dikenali sebagai Varanasi. Di dalam negara tersebut, terdapat seorang Brahmin yang telah meninggal dunia sejurus selepas isterinya melahirkan seorang cahaya mata lelaki. Anak yatim ini dibesarkan sepenuhnya oleh ibunya. Setelah dewasa, dia bersawah untuk memenuhi hidup. Namun, disebabkan mereka amat miskin, ibunya terpaksa mengemis merata-rata untuk mendapatkan makanan bagi anaknya.

Pada suatu hari, ibunya gagal mendapatkan makanan dan waktu makan juga telah berlalu. Anaknya menjadi marah lalu mendendami ibunya disebabkan kelaparan dan kehausan. Dengan api kemarahan yang marak, dia tidak henti-hentinya menyalahkan ibunya, "Mengapakah ibu belum mengantarkan makanan ke sini pada hari ini?"

Lantas, dia mengutuk lagi, "Cis! Ibu saya tidak pun layak dibandingkan dengan binatang. Saya melihat babi, anjing, musang, monyet, ular sawa, gagak serta burung nesar semuanya menjaga dan membesarkan anak-anak dengan begitu penuh belas kasihan. Anak-anak tidak dibiarkan kelaparan atau kehausan, malah tidak seketika pun ditinggalkan. Mengapakah ibu saya masih belum datang? Saya sudah merasa amat lapar dan haus sedangkan ibu masih belum mengantarkan makanan ke sini!"

Tidak lama selepas hatinya menaruh dendam, ibunya segera memohon makanan lantas bergegas ke sawah sambil mebujuk anaknya supaya ia tidak marah. Mereka baru saja mau duduk dan makan, tiba-tiba, seorang Pratyekabuddha muncul dalam rupa seorang Bhiksu, dan terbang di angkasa dari arah selatan ke utara. Anak yatim ini melihat fenomena yang ganjil tersebut lalu merasa hormat dan kagum. Dia dengan segera bangun dan menyusunkan kedua telapak tangannya bersama lalu bersujud penuh sambil menjemput Pratyekabuddha itu turun. Pada masa itu, Pratyekabuddha itu telah menerima jemputannya. Dia amat gembira dan giat menyediakan tempat duduk dengan lalang putih. Selain itu, dengan penuh hormat, dia telah mempersembahkan bunga yang bersih dan suci, serta sebagian makanannya kepada Pratyekabuddha itu dengan dua belah tangan. Selepas makan, Bhiksu itu menkhutbahkan ajaran penting Dharma Buddha kepadanya agar dia merasa sukacita. Atas sebab dan afiniti ini, anak yatim tersebut kemudian menjadi Sramanera dan juga dilantik sebagai Bhiksu yang menguruskan urusan dalam Vihara.

Pada waktu itu, seorang Brahmin telah mendirikan sebuah Vihara untuk penginapan para Sangha. Seorang lagi penderma pula menghadiahkan banyak mentega dan makanan kepada mereka. Secara kebetulan, terdapat banyak Bhiksu mengembara yang menetap di situ dan sedang makan pada masa itu, Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu setelah melihat keadaan tersebut lalu timbul perasaan benci dan tamak. Dia menganggap para Bhiksu yang mengembara itu sebagai orang yang amat menyusahkan dan menimbulkan masalah. Oleh karena itu, dia telah menyimpan semua mentega dan makanan yang dihadiahkan lalu tidak membenarkan mereka makan. Karena hal demikian, Bhiksu yang mengembara itu telah mempersoalkannya, "Penyembahan ini telah dimaksudkan untuk semua ahli Sangha yang berada di dalam Vihara. Mengapa kamu menyimpan penyembahan makanan tersebut dan tidak membenarkan semua orang memakannya? "

Bhiksu yang mengurus urusan Vihara itu merasa benci dan melepaskan kemarahannya, "Kamu semua, Bhiksu yang mengembara, mengapa kamu tidak makan saja najis dan kencing? Kenapa kamu mau meminta mentega? Sudahkah mata kamu menjadi buta? Apakah kamu melihat saya menyembunyikan mentega itu?" Bhagavan Buddha memberitahu Dewaraja Sakra, "Anak yatim lelaki Brahmin pada waktu itu ialah Dewaputra Tusita sekarang. Disebabkan dia mendendami dan membandingkan ibunya dengan binatang, kini dia akan menerima pembalasan dalam rupa hewan untuk tujuh hayat berturut-turut. Ada lagi, sewaktu dia menjadi Bhiksu yang mengurus urusan Vihara, dia telah mengeluarkan ucapan-ucapan memakan najis dan kencing yang kotor. Pada pembalasan karmanya ialah dia akan selalu makan makanan yang tidak bersih. Karena tamak dan tidak mau memberi makanan yang disembahkan kepada para Sangha, dia akan menderita di alam neraka. Sebagai pembalasan memarahi Sangha,dia akan buta, dia tidak akan mempunyai mata. Untuk tujuh ratus hayat, dia akan sentiasa buta dan hidup dalam kegelapan serta mengalami kesengsaraan yang amat.

Raja Surga! Kamu harus sadar bahwa karma-karma buruk begini pasti akan menerima pembalasan akibat kelakuan buruknya. Dosa ini tidak mungkin luntur atau dihapuskan. Yang keduanya, Raja Surga! Kebahagiaan hidup di surga yang dinikmati Dewaputra Tusita adalah disebabkan ia pernah membuat persembahan kepada Pratyekabuddha, menyediakan tempat duduk, mempersembahkan bunga, mendermakan makanannya dengan penuh hormat dan pernah mendengar Dharma Buddha. Setelah kalpa yang tidak terkira banyaknya berlalu, dia masih dapat mengecapi kebahagiaan yang agung dan tiada ada tandingannya. Di samping itu, sewaktu Pratyekabuddha terbang melintasi langit, dia telah memandang ke atas dan melahirkan perasaan penuh hormat lalu bersujud penuh. Disebabkan kebaktian dan jasa ini, dia telah diberitahu terlebih dahulu akan pembalasannya oleh suara dewa dari langit. Dewa itu sebenarnya ialah Dewa Istana Dewaputra Tusita!" "Raja Surga, ada sekarang Dharani yang dikenal sebagai “Usnisa Vijaya Dharani”. Dharani ini dapat mensucikan segala karma buruk dan menghapus segala sengsara kelahiran dan kematian. Di samping itu, Dharani ini boleh membebaskan segala makhluk dari alam neraka, alam Raja Yama dan alam binatang daripada mengalami kesengsaraan, memusnahkan semua alam neraka dan membolehkan makhluk-makhluk berubah haluan ke haluan suci.

"Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Usnisa Vijaya Dharani ini walaupun hanya sekali, segala karma buruk dari kehidupan dahulunya (yang patut menyebabkannya terjerumus ke alam neraka) akan dimusnahkan semuanya. Sebaliknya, ia juga akan memperoleh badan yang suci dan halus. Tidak kira di mana ia lahir semula, ia akan mengingat Dharani ini dengan jelas dari satu Tanah Suci Buddha ke Tanah Suci Buddha yang lain, dari satu alam surga ke alam surga yang lain. Sesungguhnya, di seluruh Surga Trayastrimsa, di manapun ia lahir semula, tidak akan ia lupakan Dharani ini."

"Raja Surga, sckiranya ada yang mengingati Dharani ini saat ia hampir meninggal dunia, walau hanya untuk seketika, umurnya akan dipanjangkan dan ia akan mengalami penyucian badan, ucapan dan pikiran.Ia akan menikmati kesejahteraan yang merata bersesuaian dengan jasanya, dan ia tidak akan sakit menderita. Sambil menerima pahala dari semua Tathagata, dilindungi semua dewa surga dan Bodhisattva, ia akan dihormati serta dimuliakan oleh semua orang dan segala karma buruknya musnah."

"Raja Surga, sekiranya ada yang dapat membaca atau menlafalkan Dharani ini dengan ikhlas walaupun untuk masa yang amat pendek, segala karma buruknya yang sepatutnya membawa penderitaan ke alam-alam neraka, alam Raja Yama, binatang, dan hantu kelaparan akan dimusnahkan sepenuhnya tanpa meninggalkan walaupun hanya sedikit karma buruk. la akan bebas untuk pergi ke mana-mana Tanah Suci Buddha dan istana-istana surga dan semua pintu kediaman Bodhisattva akan terbuka untuknya tanpa adanya halangan."

Selepas mendengar khutbah tersebut, Dewaraja Sakra lantas memohon kepada Bhagavan Buddha, "Demi kepentingan segala makhluk, sudilah Bhagavan Buddha memberikan khutbah tentang cara-cara melanjutkan usia seseorang."
Bhagavan Buddha mengetahui permohonan dan keinginan Dewaraja Sakra untuk mendengar khutbah-Nya tentang Dharani ini, lalu mengucapkan Mantra tersebut, seperti demikian:


"NAMO BHAGAVATE TRAILOKYA PRATIVISISTAYA BUDDHAYA BHAGAVATE. TADYATHA, OM, VISUDDHAYA-VISUDDHAYA, ASAMA-SAMA SAMANTAVABHASA- SPHARANA GATI GAHANA SVABHAVA VISUDDHE, ABHISINCATU MAM. SUGATA VARA VACANA AMRTA ABHISEKAI MAHA MANTRA-PADAI. AHARA-AHARA AYUH SAM-DHARANI. SODHAYA-SODHAYA, GAGANA VISUDDHE. USNISA VIJAYA VISUDDHE. SAHASRA-RASMI,
SAMCODITE, SARVA TATHAGATA AVALOKANI, SAT-PARAMITA, PARIPURANI, SARVA TATHAGATA MATI DASA-BHUMI, PRATI-STHITE, SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE. VAJRA KAYA, SAM-HATANA VISUDDHE. SARVAVARANA APAYA DURGATI, PARI-VISUDDHE, PRATI-NIVARTAYA AYUH SUDDHE. SAMAYA ADHISTHITE. MANI-MANI MAHA MANI. TATHATA BHUTAKOTI PARISUDDHE. VISPHUTA BUDDHI SUDDHE.
JAYA-JAYA, VIJAYA-VIJAYA, SMARA-SMARA. SARVA BUDDHA ADHISTHITA SUDDHE. VAJRI VAJRAGARBHE, VAJRAM BHAVATU MAMA SARIRAM. SARVA SATTVANAM CA KAYA PARI VISUDDHE. SARVA GATI PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA SINCA ME SAMASVASAYANTU. SARVA TATHAGATA SAMASVASA ADHISTHITE, BUDDHYA-BUDDHYA, VIBUDDHYA-VIBUDDHYA, BODHAYA-BODHAYA, VIBODHAYA-VIBODHAYA. SAMANTA PARISUDDHE. SARVA TATHAGATA HRDAYA ADHISTHANADHISTHITA MAHA-MUDRE SVAHA.


Kemudian Bhagavan Buddha mengisytihar kepada Dewaraja Sakra, "Mantra di atas dikenali sebagai ' Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk'. Dharani ini berupaya mengatasi segala rintangan karma buruk dan menghapuskan semua derita haluan buruk."

"Raja Surga, Dharani agung ini dikhutbahkan serentak oleh semua Buddha, sebanyak butiran pasir di dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti Sungai Gangga. Semua Buddha menerima dan mengamalkan Dharani ini, yang telah diuji kebenarannya oleh Mohor Kearifbijaksanaan Maha Vairocana Tathagata, dengan hati yang sukacita. Dharani ini diumumkan dengan tujuan menghilangkan segala penderitaan yang ditanggung oleh makhluk yang berada di dalam haluan buruk, untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan di alam neraka, alam binatang dan alam Raja Yama; untuk menyelamatkan makhluk yang sedang menghadapi bahaya terjerumus ke dalam kitaran kelahiran-kematian (samsara); untuk membantu makhluk yang tidak berdaya, yang mempunyai usia yang pendek, dan yang bernasib malang serta untuk menyelamatkan makhluk yang suka melakukan segala jenis perbuatan jahat. Ada lagi, kuasa yang menjelma akibat pengamalan Dharani ini dalam dunia Jambu-dvipa membolehkan makhluk di dalam alam neraka dan alam-alam buruk lain, yang bernasib malang dan berputar dalam kitaran kelahiran-kematian, yang tidak percaya akan wujud perbuatan baik dan buruk, dan yang menyimpang dari jalan benar, akan semuanya dibebaskan."


Bhagavan Buddha mengingatkan Dewaraja Sakra sekali lagi, "Tathagata kini menitahkan Dharani sakti ini kepadamu. Haruslah engkau memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita. Di samping itu, haruslah engkau menerima dan berpegang kepadanya, membaca dan menglafalkannya, menghayatinya secara mendalam, menghargainya, menghafal dan menghormatinya. Mudra Dharani ini juga harus diumumkan secara meluas kepada semua makhluk di dalam dunia Jambu-dvipa. Tathagata juga mengamanahkan kepadamu, demi kebahagiaan semua makhluk surga, Mudra Dharani ini patut disebarkan. Raja Surga, engkau harus tekun melindungi dan berpegang kepadanya. Jangan biarkan Dharani ini hilang atau dilupakan."

"Raja Surga, sekiranya ada yang mendengar Dharani ini walau hanya untuk seketika, ia tidak akan mengalami karma daripada karma buruk dan kesalahan berat yang terkumpul dari ribuan kalpa dahulu yang sepatutnya menyebabkannya berada dalam kitaran kelahiran-kematian - dalam segala rupa hidup haluan buruk - alam neraka, ' hantu-lapar', binatang, dunia Raja Yama, Asura, Yaksa, Raksasa, Putana, Kataputana, Apasmara, hantu dan roh-roh, dalam rupa nyamuk dan agas, kura-kura, anjing, ular sawa, burung, binatang liar, hewan-hewan merangkak maupun semut dan bentuk kehidupan yang lain. Hasil daripada manfaat mendengar Dharani ini walau hanya seketika, selepas hidup ini, ia akan dilahirkan semula serta-merta di Tanah-Tanah Suci Buddha bersama dengan semua Buddha dan Ekajati-Pratibaddha Bodhisattva, atau di dalam keluarga Brahmin atau Ksatriya yang terkemuka, atau keluarga yang kaya dan berpengaruh yang lain. Raja Surga, disebabkan ia berkebajikan mendengar Dharani ini, ia akan dilahirkan semula dalam keluarga yang mewah dan dihormati, dan setelah itu, dilahirkan semula di tempat yang suci."

"Raja Surga, apabila memperoleh Bodhimanda terhormat dan mulia juga adalah akibat yang dibawa semata-mata oleh pemujian kebaikan Dharani ini. Raja Surga, maka Dharani ini dikenal sebagai Dharani yang Membawa Berkah, yang boleh menyucikan segala haluan buruk. Usnisa Vijaya Dharani ini menyerupai Mutiara Mani yang terang bersinar - suci dan sempurna, jernih bagaikan langit dan kegemilangannya menyinar dan memancar ke seluruh pelosok dunia. Sekiranya makhluk-makhluk berpegang kepada Dharani ini, mereka akan turut menjadi suci dan terang. Dharani ini menyerupai emas Jambunada - terang, bersih dan lembut, tidak tercemar oleh kotoran, dan siapa saja yang melihatnya turut berkenan olehnya. Raja Surga, makhluk yang berpegang kepada Dharani ini juga demikian suci dan murni. Mereka ini akan lahir semula dalam haluan suci berdasarkan kesucian dan amalan Dharani yang mengagumkan."

"Raja Surga, di mana Dharani ini hadir, sekiranya Dharani ini boleh dicetak untuk kebahagiaan mahluk, disebarluaskan, diterima dan diamalkan, dibaca serta dilafalkan, didengar dan dihormati, hal ini akan menyucikan segala haluan buruk; penderitaan dan kesengsaraan di neraka-neraka akan hilang dengan sepenuhnya."

Bhagavan Buddha bersabda dengan teliti kepada Dewaraja Sakra sekali lagi, "Sekiranya ada yang dapat menulis Dharani ini dan memaparkannya di atas panji-panji yang tinggi, gunung yang tinggi, bangunan yang tinggi ataupun menyimpannya di dalam stupa; Raja Surga, kalau ada Bhiksu atau Bhiksuni, Upasaka atau Upasika, kaum lelaki atau perempuan yang melihat Dharani sakti ini terbentang di atas struktur-struktur tersebut, atau struktur ini membayangi mereka yang menghampirinya, atau abu dari Dharani itu tertiup mengenai badan mereka; Raja Surga, menurut pengumpulan dosa dan karma buruk mereka, walaupun makhluk-makhluk ini sepatutnya jatuh ke dalam alam neraka, alam binatang, alam ' hantu-lapar', alam Raja Yama, Asura dan sebagainya untuk menderita dalam haluan buruk, namun mereka tidak akan menanggung dosa-dosa ini dan juga tidak akan dicemari oleh keburukan moral. Raja Surga! Sebaliknya, semua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan Vyakarana (penetapan) kepada makhluk- makhluk ini, yang mereka akan menuju ke arah Anuttara-samyak-sambodhi (Penerangan Sempurna) dan tidak akan luntur keyakinannya."

"Raja Syurga, malah kalau seseorang membuat berbagai penyembahan berbentuk kalungan bunga, wangi-wangian, panji-panji dan sepanduk, langit yang dihiasi permata, pakaian, kalungan permata dan sebagainya untuk menghiasi dan menghormati Dharani ini; dan sekiranya ada yang membangun stupa khusus untuk menyimpan Dharani ini di simpang jalan utama, dan kemudian berjalan mengelilingi stupa tersebut sambil menyusun kedua tapak tangan dalam tanda memberi hormat, serta bersujud menerima petunjuk ajaran Buddha, Dharma, dan Sangha; Raja Surga, mereka yang membuat penyembahan sedemikian akan digelari Mahasattva Agung, pengikut Bhagavan yang setia dan penyokong Dharma. Stupa-stupa sedemikian akan dianggap sebagai stupa sharira seluruh-jasad Tathagata."

Pada saat itu, raja alam neraka, Raja Yama tiba di tempat penginapan Bhagavan Buddha pada awal malam. Mula-mula, dengan menggunakan pakaian dewa, bunga-bungaan yang cantik, wangi-wangian dan perhiasan-perhiasan lain, baginda telah memberi penghormatan dan membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, sebelum berjalan mengelilingi Bhagavan Buddha sebanyak tujuh kali. Sambil bersujud penuh, baginda telah memeluk tapak kaki Bhagavan sebagai tanda hormat, kemudiannya berkata, "Hamba mendengar bahwa Tathagata sedang berkhutbah memuji amalan Dharani berkuasa ini; hamba datang karena ingin belajar dan seterusnya mengamalkannya. Hamba akan selalu melindungi makhluk yang menerima, membaca, melafazkan, dan mempraktikkan amalan Dharani berkuasa inl, dan menghalangi mereka dari terjatuh ke dalam alam neraka karena mereka telah mengikuti ajaran Tathagata." Pada masa itu, keempat-Maha Raja Langit Pelindung Dunia - Catur-maharaja (Empat Raja Surga), telah mengelilingi Bhagavan Buddha tiga kali, lantas memohon dengan penuh hormat, "Bhagavan Buddha, sudilah Tathagata dapat menjelaskan dengan teliti cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."

Bhagavan Buddha pun berucap kepada Empat Raja Surga itu, "Dengarlah dengan penuh perhatian! Demi kepentinganmu dan juga kepentingan makhluk-makhluk berusia pendek, Tathagata akan berkhutbah tentang cara-cara untuk mengamalkan Dharani ini."

"Mula-mula, seseorang itu harus memandikan diri dan memakai pakaian bersih yang baru, mematuhi dan mengamalkan petua-petua 'precept' dan melafalkan Dharani ini seribu kali pada hari bulan purnama - hari ke-15 bulan lunar. Ini akan membolehkan orang itu melanjutkan usianya dan sentiasa bebas daripada penderitaan akibat sakit. Semua halangan karmanya, termasuk yang boleh menyebabkannya menderita di alam neraka, akan dibasmikan kesemuanya. Jika burung, binatang dan makhluk lain mendengar Dharani ini walaupun sekali, selepas tamatnya hayat ini, mereka tidak akan lahir lagi dalam rupa badan yang kotor dan kasar begitu."

Bhagavan Buddha meneruskan lagi, "Sekiranya ada yang menderita akibat penyakit tenat terdengar Dharani ini, ia akan senantiasa bebas dari penyakit tersebut. Semua penyakit yang lain turut dibasmi bersama dengan karma buruk yang sepatutnya menyebabkannya terjerumus ke haluan buruk. Selepas akhir hayat ini, ia akan lahir semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi. Dari hayat tersebut seterusnya, tidak akan ia lahir semula dari rahim. Sebaliknya, di mana jua ia lahir semula, ia akan menjelma dari bunga teratai. Ia akan selalu mengingat dan mengamalkan Dharani ini di samping mendapatkan pengetahuan tentang kehidupan silamnya tidak kira mana ia dilahirkan."

Bhagavan Buddha menambah kata, "Sekiranya ada yang telah melakukan berbagai kegiatan buruk dan dosa berat sebelum meninggal dunia, ia sudah tentunya akan terjerumus ke alam neraka, binatang atau ' hantu-lapar', ataupun ke dalam Neraka Avici besar, atau lahir semula sebagai hewan air, atau dalam rupa burung dan binatang berdasarkan dosa-dosa yang dilakukannya selepas akhir hidupnya. Sekiranya ada orang yang kemudian mengambil sebahagian daripada tulang rangka mendiang, dan sambil memegang segenggam tanah, melafalkan Dharani ini 21 kali dan selepas itu ditaburkan pada tulang-tulang itu. Ini akan membolehkan mendiang lahir semula di surga."

Bhagavan Buddha berucap lagi, "Sekiranya seseorang itu boleh melafalkan Dharani ini 21 kali sehari, ia berhak menerima segala pahala alam dunia, dan akan dilahirkan semula dalam Dunia Kebahagiaan Tertinggi selepas meninggal dunia. Sekiranya ia sering melafalkan Dharani ini, ia akan mencapai Maha Parinirvana dan berupaya melanjutkan usianya di samping menikmati hidup yang amat bahagia. Selepas hidup ini berakhir, ia akan lahir semula di salah satu Tanah Suci Buddha yang mengagumkan dan selalu didampingi oleh para Bhagavan Buddha. Kesemua Tathagata akan senantiasa berkhutbah tentang kebenaran mendalam Dharma yang mengagumkan, dan kesemua Bhagavan Buddha akan mengaruniakan penetapan Kesadaran Mulia kepadanya. Cahaya yang memancar dari tubuhnya akan menyinari seluruh penjuru Tanah Suci Buddha"

Bhagavan Buddha menjelaskan lagi, "Untuk melafalkan Dharani ini, pada mulanya, seseorang itu harus menggunakan tanah yang bersih dan suci untuk membina tempat pemujaan empat segi yang saiznya mengikut kemampuan masing-masing di hadapan Rupang Bhagavan Buddha. Setelah itu, orang itu harus menaburkan berbagai rumput- rampai dan bunga di atas tempat pemujaan itu, dan membakar berbagai jenis kemenyan bermutu. Kemudian, sambil berlutut dengan meletakkan lutut kanan di atas lantai, melafalkan nama Buddha dengan penuh konsentrasi dalam hati, dan meletakkan kedua belah tangan dalam bentuk simbol Mudrani (yaitu dengan membengkokkan jari penunjuk dan menekannya ke bawah menggunakan ibu jari; kedua belah tapak tangan dihadap dan diposisikan di hadapan dada) dengan penuh penghormatan, seseorang itu harus melafalkan Dharani tersebut sebanyak 108 kali. Kemudian, bunga-bungaan akan menghujani tempat pemujaan itu dari awan dan akan seterusnya dijadikan penyembahan universal kepada para Bhagavan Buddha sebanyak butiran pasir yang terdapat dalam delapan puluh delapan ratus ribu koti nayuta Sungai Gangga. Para Bhagavan Buddha akan memuji dengan serentak, "Unggul! Jarang sekali! Sesungguhnya beliau seorang pengikut Bhagavan Buddha yang setia!" Pada masa yang sama, dia akan mencapai Samadhi. Kebijaksanaan Yang Tidak Terhalang, dan Samadhi Yang Dihiasi Minda Maha Bodhi dengan serta-merta. Demikianlah cara untuk menepati amalan Dharani ini."

Bhagavan Buddha menasihati Dewaraja Sakra lagi, "Raja Surga, Tathagata menggunakan pendekatan yang mudah ini untuk menyelamatkan makhluk yang sepatutnya terjerumus ke dalam neraka, untuk menyucikan semua haluan buruk, dan juga untuk melanjutkan usia makhluk yang mengamalkan Dharani ini. Raja Surga, kembalilah kamu sekarang dan maklumkanlah Dharani ini kepada Dewaputra Tusita. Selepas tempoh tujuh hari, datanglah bersamanya menghadap Tathagata".

Pada masa itu, di tempat penginapan Bhagavan Buddha, Raja Surga menerima amalan Dharani ini dengan penuh penghormatan, dan kembali ke istana surganya untuk memaklumkannya kepada Dewaputra Tusita.

Setelah menerima Dharani ini, Dewaputra Tusita mulai mengamalkannya sebagaimana yang ditunjuk selama enam hari dan enam malam. Selepas tempoh itu, segala permintaannya telah ditunaikan. Karmanya yang sepatutnya menyebabkannya menderita dalam segala haluan buruk telah dihapuskan. la akan berkekalan pada haluan Bodhi dan hidupnya akan dipanjangkan untuk waktu yang tidak terhingga. Dengan demikian, Dewaputra Tusita pun sangat sukacita, lalu berseru dan memuji, "Tathagata yang Agung! Dharma yang Istimewa! Keberkesanannya terbukti dengan jelas! Jarang sekali! Sesungguhnya hamba telah diselamatkan dengan cara ini!"

Sehabisnya tempoh tujuh hari itu, Dewaraja Sakra bersama Dewaputra Tusita dan makhluk-makhluk surga yang lain membawa bunga malai, wangi-wangian, kemenyan, panji-panji permata, lelangit yang dihiasi batu-batu permata, pakaian dewa dan kalungan permata, menghadap tempat penginapan Bhagavan Buddha dengan penuh penghormatan untuk membentangkan penyembahan yang agung ini. Setelah membuat penyembahan kepada Bhagavan Buddha, mereka pun mengelilingi Bhagavan Buddha seratus ribu kali sebagai tanda memberi hormat. Selepas menghadap dengan penuh takzim di hadapan Bhagavan Buddha, mereka mengambil tempat masing-masing untuk mendengar khutbah Dharma daripada Bhagavan Buddha dengan sukacitanya.

Kemudian Bhagavan Buddha mengulurkan tangan keemasan-Nya dan menyentuh puncak silara Dewaputra Tusita. Sang Sugata bukan saja berkhutbah Dharma kepadanya, tetapi juga mengaruniakan penetapan pencapaian Dewaputra Tusita ke Bodhi. Akhirnya Bhagavan Buddha bertitah, "Sutra ini akan dikenali sebagai Usnisa Vijaya Dharani yang Menyucikan Segala Haluan Buruk. Haruslah anda gigih berpegang kepada amalan ini." Setelah mendengar demikian, semua yang berhimpun di situ merasa sangat sukacita. Mereka mempercayai, menerima dan mengamalkan Dharani ini dengan setia dan penuh penghormatan.



NAMO SIDDHARTA GOTAMA SAKYAMUNI BUDDHAYA
NAMO MAHA VAIROCANA TATHAGATA
NAMO VIPASYIN TATHAGATA


("Om Amirta Tejo Vati Svaha adalah Hrdaya Mantra Ushnisha Vijaya yang mendapatkan pengesahan langsung dengan lencana Prajna dari Maha Vairocana Tathagata. Sekali mengucapkan, karma buruk terhapuskan semua")